Tolong matikan adblock dan script blocker Anda untuk melihat halaman ini.

──Jika ingin meng-COPY tolong sertakan sumber :D──


Penerjemah : D.Blank13th


Act 2

Potion


Mereka yang tidak bekerja tidak dapat makan.

Sudah lama semenjak aku pindah. Aku mulai bekerja di Lembaga Penelitian Tanaman Herbal tanpa halangan.

Terasa tidak nyaman untuk mengubah hobiku menjadi pekerjaan, tapi setelah memikirkan semuanya, kurasa ini adalah pilihan terbaik.

Sepertinya hanya sejumlah kecil orang saja yang tahu kalau aku akan bekerja di lembaga penelitian. Jadi para peneliti di lembaga hanya mengetahuinya di hari pertamaku bekerja ketika Direktur membawaku untuk menyapa semua orang.

“Saya telah ditugaskan untuk bekerja disini. Nama saya Sei. Saya harap bisa bekerja sama dengan kalian.”

Direktur mendesak diriku untuk memberi sapaan, tapi entah kenapa semua orang terkejut.

Aku sudah kenal kebanyakan peneliti disini, tapi sepertinya aku bekerja disini menjadi kejutan besar bagi mereka. Ini sangat mendadak hingga mereka semua terkejut.

Karena itu, mereka tidak langsung bereaksi terhadap sapaanku namun setelah beberapa saat mereka mulai membuat keributan.

Direktur: “Nah kalau begitu, orang yang akan membimbing Sei adalah... Jude, kau.”

“Eh? Saya?”



Direktur berbicara dengan keras untuk menenangkan keributan.

Aku terkejut karena mendadak diberitahu bahwa Jude yang akan membimbingku. Tapi aku merasa tenang mengetahui kalau Jude yang akan bertanggung jawab atas diriku, karena dialah yang paling dekat denganku diantara para peneliti.

Di Jepang sudah biasa untuk bekerja dengan orang yang tidak kau kenal jadi kurasa tidak apa-apa bahkan jika seseorang yang tidak kukenal bertanggung jawab atas diriku, namun masih lebih baik bekerja dibawah orang yang kukenal.

Lagipula, lebih baik lagi bahwa orang itu adalah seseorang yang dekat denganku.

Direktur mungkin memikirkan hal yang sama dan menempatkan Jude untuk bertanggung jawab atas diriku.

“Mohon kerja samanya.”

“Saya juga mohon kerja samanya.”

Aku terkejut dan menyapa Jude lagi dan Jude menjawab dengan sebuah senyuman.

Jude mengajarkanku berbagai hal tentang lembaga penelitian; terutama topik penelitian, tanaman herbal yang disebut sama di lembaga penelitian, nama-nama tanaman herbal dan potion.

Efek dari tanaman herbal juga sama seperti di dunia asliku. Di sela-sela penjelasan Jude, aku membicarakan tentang apa yang sudah kupelajari di Jepang dan dia terkejut berkata, “Kamu mengetahuinya dengan baik.”

Di Jepang, kau bisa belajar tentang tanaman herbal sebagai hobi, tapi disini, ada kursus khusus untuk belajar tentang tanaman herbal di Akademi Kerajaan.

Kebetulan, Akademi Kerajaan adalah sekolah yang dihadiri oleh anak bangsawan. Mereka umumnya menghadiri sekolah ini dari umur 13 sampai 15 tahun, yaitu saat mereka telah disebut dewasa.

Kursus khusus dibuat untuk orang hadiri sampai mereka berumur 18. Jude telah mempelajari ilmu farmasi di kursus khusus itu dan dia juga belajar tentang herbal.

Kau juga bisa belajar ilmu alam di dunia asliku dan sudah kuduga, penelitian disana lebih maju.

Penelitian khusus Jude adalah potion.

Itu benar, potion. Potion.

Itu adalah tipe yang muncul di game RPG.

Karena kau bisa meminumnya atau menerapkannya pada area yang terluka, kurasa itu akan mirip dengan obat di Jepang. Tapi itu agak berbeda, potion memiliki efek segera, bukan?

Seberapa jauh efeknya?

Luka gores yang kubuat secara ceroboh dalam sekejap sembuh ketika aku menerapkan potion pada lukaku.

Itu mengejutkanku.

Demi mengetahui efek dari potion, aku menggenggam pisau dan menggores ujung jariku. Jude terkejut melihat aku melakukan ini.

Aku sangatlah ingin mengujinya jadi aku hanya membuat goresan kecil di jariku, tapi lukaku sangat berdarah.

Setelah itu, Jude marah.

Hari pertamaku berakhir dengan penjelasan dari peralatan lembaga penelitian dan isi pekerjaanku.

Esok harinya aku diajari cara membuat potion.

Jude utamanya meneliti potion dan karena kurasa akan lebih menyenangkan untuk menyentuh benda yang tidak ada di dunia asliku, aku ingin meneliti bersama.

“Nah kalau begitu, ayo kita mulai.”

Jude terlihat berpengalama saat dia mulai membuat potion.

Aku tidak pernah membuat potion sebelumnya dan karena kita akan bekerja bersama dari sekarang, Jude menunjukkan padaku cara membuatnya.

Potion dibuat dengan memasukkan tanaman herbal dan air dalam pot, kemudian mendidihkan dan memusatkan Magic Power ke dalamnya.

Potion dibagi kedalam tingkatan seperti: kelas rendah, kelas menengah dan kelas tinggi. Peringkat sepertinya ditentukan oleh tanaman herbal yang digunakan.

Namun, potion tingkat tinggi tidak bisa dibuat hanya dengan memasukkan tanaman herbal yang diresepkan.

Kontrol yang halus dari sihir diperlukan demi membuat potion tingkat tinggi, tingkatan produksinya bergantung pada keterampilan si pembuat.

Tanaman herbal yang digunakan sebagai bahan itu mahal dan jumlah orang yang dapat membuat potion seperti itu langka, jadi potion tingkat tinggi dijual dengan harga yang yang tidak bisa digunakan.

Pertama, hanya anggota kerajaan dan bangsawan yang bisa membeli potion dan sepertinya tidak tersedia di apotek.

Nah, kembali ke cerita.

Untuk membuat potion, perlu menyalurkan sihir saat mendidihkan.

Yap, sihir.

“Setelah memasukkan bahan-bahannya, kamu mendidihkannya sambil menyalurkan Magic Power(Kekuatan Sihir).”

“Magic Power?”

Ketika aku pertama kali mendengarnya, aku memikirkan cara menyalurkan magic power. Aku pasti salah dengar.

Karena tidak ada sihir di dunia asliku.

“Bagaimana anda menyalurkannya?”

“Eh?”

Jude terkejut ketika aku menanyakan itu.

Ada sihir di dunia ini.

Magic Power diperlukan untuk menggunakan sihir. Ada sesuatu yang disebut Life Magic(Sihir Kehidupan) yang dapat digunakan semua orang, jadi sepertinya orang-orang di dunia ini sangat familier dengan Magic Power.

Kurasa ini menjadi lebih dan lebih seperti game sejak aku mendengar kata potion dan sekarang sihir. Tapi tak diragukan lagi ini adalah kenyataan.

“Apa anda tidak pernah menggunakan sihir sebelumnya, Sei?”

“Tidak pernah.”

“Bahkan Life Magic?”

“Ya.”

Jude benar-benar terkejut karena aku tidak pernah menggunakan Life Magic sebelumnya, karena itu adalah sesuatu yang bahkan orang biasa gunakan. Tapi aku tidak bisa membuat potion jika aku tidak dapat mengendalikan Magic Power-ku. Setelah dia selesai membuat potion, Jude memutuskan untuk mengajarkan cara mengendalikan sihir untukku.

“Nah sudah selesai.”

“Wow~”

Setelah Jude selesai mendidihkan potion, dia menyaringnya sebelum menuangkannya ke dalam botol tipis yang panjang. Di dalam botol itu adalah cairan berwarna merah cerah.

Potion yang Jude buat kali ini adalah HP potion kelas rendah paling mudah.

Dia membuat ini karena bahan-bahan yang digunakan tumbuh di kebun herbal dan mudah didapatkan.

“Mengagumkan, anda bisa membuat sesuatu seperti ini~”

“Itu HP potion kelas rendah, jadi relatif mudah dibuat.”

“Tapi kita tidak bisa membuatnya jika kita tidak bisa mengendalikan sihir kita, kan?”



Jude: “Yah, itu benar. Tapi karena itu hanya potion kelas rendah seharusnya tidaklah sulit.”

“Sungguh? Tapi, ini memang mengagumkan.”

“B-begitukah?”

Aku senang melihat item fantasi di depan mataku dan terus mengatakan bahwa itu mengagumkan. Jude malu-malu.

Jude sedikit merona, dia merona sambil malu-malu.

Ini bagus untuk cuci mata.
[TL Note: Untuk cewek oke :3 ]

Setelah potion-nya selesai, Jude memulai pelajarannya untuk mengendalikan sihir.

Jude mengajariku dengan sangat rinci, dengan cara yang sama yang diajarkan padanya di Akademi Kerajaan.

Ya, dia benar-benar memegang tanganku.

Sepertinya aku mulai dengan merasakan magic power di tubuhku, tapi ini sangatlah sulit.

Kenapa? Karena aku hidup di dunia tanpa sihir.

Jika orang-orang di dunia ini hanya menggunakan Life Magic, sepertinya tidak masalah bagi mereka meskipun mereka tidak sadar akan Magic Power di dalam tubuh mereka.

Kebanyakan Life Magic bisa dipanggil dengan rapalan.

Namun, untuk membuat potion atau menggunakan sihir selain Life Magic, penting untuk sadar akan Magic Power di dalam tubuhmu.

Jude menjelaskan berbagai cara untuk merasakan Magic Power tapi karena aku tidak dapat melakukannya, Jude membantuku dengan menggunakan metode Akademi Kerajaan.

“Nah, tempelkan tangan anda di atas tanganku.”

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, Jude menaikkan tangannya sampai setinggi dadanya dan aku menempelkan telapak tanganku di atas telapak tangannya.

Karena bekerja di kebun herbal adalah bagian dari pekerjaannya, tangan Jude sedikit kasar.

Tangannya lebih besar dari tanganku, ini memang tangan seorang pria. Aku dapat merasakan suhu tubuh Jude sedikit lebih tinggi di telapak tanganku.

Aku sedikit gugup karena aku tidak pernah memegang tangan seorang pria seperti ini sebelumnya.

Tidak, tidak, kau akan kalah jika kau mulai menyadarinya.

Kerja, kerja.

Ketika aku mencoba mengubah perasaanku seperti itu, Jude memanggilku.

“Nah kalau begitu, ayo mulai.”

Jude mengirim Magic Power dari telapak tangan kanannya, dan kemudian aku merasa sesuatu perlahan mengalir ke telapak tanganku.

Ini mirip dengan panas yang dipindah, ini perasaan yang sulit dijelaskan.

Ketika Magic Power Jude memasuki tangan kananku, itu bergerak di dalam tubuhku seolah menyapu sesuatu.

Sepertinya ini adalah Magic Power milikku.

Ini bukan seperti Magic Power berpindah dari tangan kananku dan keluar dari tangan kiriku, malahan seperti ini mengalir melalui tubuhku seperti darah.

Sepertinya tubuhku sudah berhenti menjadi manusia Bumi ketika aku dipanggil.

Karena tubuhku sekarang dapat merasakan Magic Power yang tidak pernah ada di Bumi.

“Saya merasakan sesuatu mengalir melalui tubuhku.”

“Oh? Sudah? Itulah Magic Power.”

Jude agak terkejut ketika aku memberitahunya aku sudah merasakannya, tapi dia masih mengajariku sambil tersenyum.

Ini adalah metode latihan di Akademi Kerajaan, tapi meski begitu biasanya butuh waktu sekitar satu minggu untuk merasakan Magic Power di tubuh mereka.

Jude berkata sambil tertawa, “Anda berbakat”, karena aku dapat merasakan dengan cepat meskipun Jude hanya mengirim sedikit Magic Power padaku.

Magic Power masih mengalir melalui diriku bahkan ketika Jude telah berhenti mengirimkan Magic Power padaku. Latihan pengendalian sihir berlanjut lebih jauh dari sana, Jude terkejut karena semuanya berjalan lancar.

“Luar biasa, saya tidak pernah berpikir penjelasannya akan selesai secepat ini.”

“Saya yakin ini karena anda bagus mengajar. Terima kasih.”

Ketika aku tersenyum manis dan berterima kasih padanya, dia merona dan malu-malu lagi.

Memang, metode mengajar Jude sangat mudah dipahami.

Jude, yang bahagia, mengajariku berbagai Life Magic setelahnya.

Dia memberitahuku bahwa tidak nyaman bagiku jika aku tidak tahu cara menggunakan Life Magic.


◊♦◊♦◊♦◊


Sedikit waktu telah berlalu sejak aku dipanggil dan Jude telah terbuka padaku.

Sampai-sampai dia berhenti menggunakan embel-embel penghormatan.

Karena Jude mulai bekerja di lembaga penelitian lebih lama, aku memperlakukannya seolah dia adalah senpai kerja, tapi karena umur kami berdekatan, Jude bilang dia ingin aku berhenti  bersikap formal.

Setelah diajari oleh Jude, aku dengan sungguh-sungguh membuat HP potion kelas rendah.

Semuanya adalah demi menaikkan level keahlian produksi-ku sehingga aku dapat membuat potion tingkat tinggi.

Ini juga menyenangkan untuk menaikkan level sambil membuat potion.

Saat masih di Bumi, aku suka bermain game yang memiliki komponen speedrun, jadi aku benar-benar ketagihan.
[TL Note: Ada yang tahu game apa itu?]

Tentu saja, aku tidak ingin menyia-nyiakan HP potion kelas rendah yang kubuat, jadi diputuskan bahwa itu akan digunakan untuk penelitian di lembaga penelitian.

Hal tidak biasa pertama yang kusadari adalah peneliti yang meneliti potion, bukanlah Jude.

“Sei.”

“Ya?”

Ketika aku menengok ke suara yang agak jauh, aku melihat si peneliti memanggilku.

Aku mendatanginya sambil penasaran ada apa. Dia menunjuk HP potion kelas rendah di meja kerja.

“Apa itu potion yang Sei buat?”

“Mhmmm... Ya. Saya yang membuatnya.”

Potion yang dibuat di lembaga penelitian ditandai, jadi orang lain bisa tahu siapa yang membuatnya.

Itu ditandai sehingga jika terjadi sesuatu, penyelidikan terhadap penyebabnya bisa dilakukan.

Potion yang si peneliti tunjuk ditandai dengan tanda yang menunjukkan bahwa aku yang membuatnya.

“Apa kau melakukan sesuatu yang berbeda ketika membuatnya?”

“Tidak. Saya tidak melakukan sesuatu yang berbeda. Apakah ada masalah?”

“Nah, efek potion-nya berubah ketika kau yang membuatnya.”

Peneliti ini sedang mengembangkan resep baru untuk potion.

Sekarang dia sedang mencoba membuat potion baru dengan efek lebih tinggi dengan menggunakan bahan-bahan mentah potion yang sudah ada. Sepertinya dalam salah satu eksperimennya, dia menyadari bahwa efek potion yang dibuat di laboratorium berbeda dari yang dijual.

Saat dia melakukan penyelidikan terperinci, dia menyadari bahwa diantara potion yang dibuat di lembaga penelitian ada beberapa yang memiliki efek yang sama dengan potion yang dijual dan beberapa yang memiliki efek yang berbeda. Hasilnya, dia menemukan bahwa hanya potion yang dbuat olehku memiliki efek lebih tinggi.

Si peneliti memiringkan kepalanya dan ingin tahu apakah aku benar-benar tidak melakukan sesuatu yang berbeda.

Aku membuat potion dengan bahan dan prosedur yang sama yang Jude ajarkan padaku. Aku tidak mengubah prosedur maupun bahannya.

“Ini benar-benar potion kelas rendah, kan?”

“Saya rasa begitu. Saya membuatnya persis seperti yang Jude ajarkan pada saya.”

“Begitu. Kurasa aku akan bertanya pada Jude.”

Kali ini, si peneliti memanggil Jude dan bertanya padanya tentang apa yang dia ajarkan padaku.

Aku mendengarkan di sebelah mereka, tapi kontennya sama persis seperti yang kuingat.

“Ini metode biasa untuk membuat potion kelas rendah.”

“Ya. Saya tidak tahu  metode lain untuk membuat potion.”

“Untuk saat ini, mari kita nilai potion yang Sei buat.”

“Itu mungkin terlalu cepat.”

Pada akhirnya, karena aku tidak tahu penyebabnya, diputuskan bahwa potion yang kubuat akan dikirim untuk penilaian.

Kemudian si peneliti pergi entah kemana dan aku mendapat hasil penilaian potion yang kubuat.

Jangan terkejut.

Potion yang kubuat adalah potion sederhana, namun, ditetapkan bahwa untuk suatu alasan potion yang kubuat lebih baik daripada potion yang beredar di pasar.

Sepertinya itu 50% lebih baik dari potion di pasar.

“Tetap saja, ini sangat efektif.”

Jude bergumam sambil memegang potion yang kubuat dengan satu tangan.

Potion yang kubuat tampaknya mujarab.

Sepertinya beberapa botol potion diajukan untuk penilaian, tapi semuanya lebih efektif daripada barang pasar.

“Aku membuatnya seperti yang kamu ajarkan padaku.”

“Warnanya jelas sama seperti HP potion kelas rendah, tapi kenapa ya?”

“Siapa tahu, mungkin karena aku terampil?”

“Ayo lihat, kurasa bukan itu masalahnya, tapi seberapa tinggi skill farmasi milikmu sekarang?”

“Tunggu sebentar. 『Status』.”

Ketika 『Status』 dibacakan, sebuah window semi-transparan, yang hanya bisa dilihat oleh penggunanya, muncul di depanku. Statusku ditampilkan disana.

Ini adalah salah satu Life Magic yang Jude ajarkan padaku.

Ini juga salah satu alasan kenapa aku begitu asyik dalam menaikkan level skill produksi-ku.

Kurasa melihat level dari skill milikku dalam nilai numerik juga salah satu komponen dari game speedrun.

Melihat skill yang diwakili oleh nilai numerik membuatku ingin dengan ceroboh membidik counter shop.
[TL Note: Istilah game Jepang – nilai max.]


Takanashi Sei
Lv. 55/Saint


HP: 4,867/4,867
MP: 6,057/6,067


Combat Skill:Holy Attribute Magic (Sihir Atribut Suci): Lv. ∞

Production Skill:
Farmasi: Lv. 8



“Kalau kamu masih level 8, kamu masih belum bisa membuat potion kelas menengah.” Setelah mengkonfirmasikan statusku, aku memberitahu dia level skil farmasiku, Jude memiringkan kepalanya sambil bersenandung, “Hmm.”

“Nah, bukankah tidak apa? Bukan berarti efeknya rendah.”

Jude: “Tidak, tidak, tidak. Ini tidak di level yang bisa kita kesampingkan. Ini pekerjaan kita untuk menjelaskan hal-hal seperti ini!”

Kupikir tidak apa selama keefektipannya tinggi, tapi Jude marah karena mempelajari fenomena misterius dan menyelidiki penyebabnya juga adalah bagian dari pekerjaan seorang peneliti.

Tidak ada pilihan lain, aku ikut dengan pertanyaan Jude.

“Bahkan dibandingkan dengan orang lain, tipe dan jumlah bahan yang digunakan sama, prosedur sama, dan hal yang berbeda hanyalah orang yang membuatnya.”

“Itu benar.”

“Satu-satunya hal yang dapat kupikirkan adalah jumlah Magic Power yang disalurkan tapi...”

“Apa kamu menyalurkan Magic Power dalam jumlah yang besar ketika membuat potion?”

“Entah? Kurasa aku tidak menggunakan Magic Power sebanyak itu.”

“Ya, aku tidak merasakan sesuatu yang seperti itu saat mengawasimu...”

Jika kau menambah jumlah tanaman herbal, menyalurkan lebih banyak Magic Power atau mengubah bahan mentah yang digunakan dalam potion, itu akan kurang lebih menambah keefektipan dari potion yang dibuat.

Tapi tidak akan menambah sebanyak 50%, itu hanya akan menambah beberpa persen.

Prosedurnya sangat sederhana, bahkan jika kau mengubahnya, itu hanya akan sejauh seberapa banyak Magic Power yang kusalurkan ke air panas pada awalnya dan seberapa banyak tanaman herbal yang dimasukkan ke pendidih.

Nampaknya prosedur yang ada saat ini adalah yang paling efektif, dan efeknya tidak naik lebih jauh.

Aku membuat berbagai eksperimen potion bersama Jude sambil berkata “Bukan ini”, “Juga bukan itu”.

“Apa ada atribut sihir yang dapat mempengaruhi pembuatan potion?”

Jude: “Aku belum memikirkan itu.”

“Sungguh?”

“Tidak ada banyak perbedaan dalam efek diantara potion yang dibuat oleh mereka yang memiliki skill sihir dan mereka yang tidak.”

Ada skill sihir dengan berbagai atribut diantara combat skill.

Skill sihir yang tidak termasuk life magic dan secara umum mereka yang memiliki skill sihir adalah mereka yang bisa menggunakan sihir.

Kupikir mereka yang memiliki skill sihir akan memiliki atribut yang mempengaruhi potion tapi menurut Jude, nampaknya itu tidak relevan.

“Bukankah kamu memasukkan sesuatu yang lain selain sihir, Sei?”

“Sesuatu apa?”

“Mm, aku tidak terlalu tahu.”

Jude berkata dan tertawa sambil menatap keras tanganku.

Ekspresinya menunjukkan bahwa dia sedang bercanda.

Karena dia sudah terbuka padaku, saat-saat Jude akan bercanda seperti ini di tengah diskusi bertambah.

“Apa-apaan ini?”

Diskusi sekali lagi kembali ke awal.

“Tidak ada pilihan lain, kita harus menemukan penyebabnya dengan mencoba berbagai hal. Ini juga bagian dari pekerjaan kita untuk memecahkannya, bukan?”

“Hahaa, yap.”

Dari situ, aku membuat potion dengan Jude dalam berbagai kondisi.

Begitulah, hari-hariku berlalu sambil membuat potion.


◊♦◊♦◊♦◊


Sudah 3 bulan semenjak aku dipangil ke dunia ini.

“『Status』.”


Takanashi Sei
Lv. 55/Saint

HP: 4,867/4,867
MP: 5,867/6,067

Combat Skill:
Holy Attribute Magic: Lv. ∞

Production Skill:
Farmasi: Lv.21


Hanya dengan membuat potion saja di lembaga penelitian, skill farmasi milikku telah naik ke level 21.

Karena tingkatan potion yang dibuat, bertambah setiap 10 level, aku sekarang bisa membuat HP potion kelas tinggi.

Namun, aku masih banyak gagal......

Karena banyak tanaman herbal berharga yang digunakan untuk membuat  potion kelas tinggi, aku tidak bisa dengan mudah membuat banyak di level ini karena aku banyak gagal.

Jumlah potion tingkat tinggi yang kubuat sejak mencapai level 20 masih hanya 3.

Meskipun begitu, karena jumlah orang yang bisa membuat potion kelas tinggi memang sedikit, sebuah prestasi bagi peneliti seperti diriku dapat membuat potion kelas tinggi.

Nampaknya hingga sekarang tidak ada seorangpun di lembaga penelitian yang bisa membuat potion kelas tinggi. Ketika potion kelas tinggi dibutuhkan untuk penelitian, itu dipesan dari luar, jadi ketika aku dapat membuatnya, semua orang bahagia karena waktu dan biaya berkurang.

Diperlukan membuat potion untuk meningkatkan level skill farmasi, namun Magic Power biasanya habis. Karena itu ada batas seberapa banyak potion yang bisa dibuat dalam sehari. Sepertinya level tidak bisa dengan mudah naik.

Aku?

“Seperti biasa, kamu membuat jumlah yang tidak biasa.”

“Sungguh?”

“Ya. Karena membuat tidak kurang dari 10 potion kelas menengah per hari itu sangat aneh.”

HP potion kelas menengah berbaris di depan mataku.

Keefisienan dari potion-potion itu tentu saja, 50% lebih daripada normal.

Menurut Direktur lembaga penelitian, bahkan jika potion dibuat dengan buruk, itu mungkin masih lebih efektif daripada HP potion kelas tinggi pada umumnya.

Bahkan sekarang Jude dan 2 peneliti sedang memeriksa potion-ku siang dan malam, untuk mencari penyebab dari keefisienan yang aneh itu.

Seperti biasa, mereka tidak dapat memahami penyebabnya sama sekali, Jude dan aku harus mengesampingkan sesuatu, jadi peneliti lain juga baru bergabung dalam penyelidikan.

Potion itu diperiksa dari berbagai sudut; ada yang memeriksa proses pembuatan, ada yang memeriksa potion-nya sendiri, dsb. Sementara itu, aku terus bersungguh-sungguh membuat potion.

Sepanjang hari.

Kapan itu? Itu di hari dimana aku membuat 150 botol HP potion kelas rendah.

Jude bertanya, “Kamu masih bisa membuatnya?”

Jawabanku pada itu adalah, “Membuat apa?”

Kemudian aku akhirnya mengetahui tentang jumlah potion yang umumnya dapat dibuat oleh seseorang dalam sehari.

Magic Power yang disalurkan pada potion meningkat seiring lebih tingginya tingkatan potion. Nampaknya jumlah rata-rata yang dapat seseorang buat per hari adalah 100 botol potion kelas rendah atau 10 botol potion kelas menengah.

Kasus ini berlaku pada ahli farmasi yang berspesialisasi dalam membuat potion. Bahkan kurang untuk mereka yang bekerja di lembaga penelitian.

MP pastinya menurun ketika membuat potion tapi karena itu tidak signifikan, aku sama sekali tidak peduli.

Karena itu Jude bilang aku tidak menyalurkan Magic Power saat aku membuat potion, tapi MP-ku terus menurun, dan lagipula jika kau tidak menyalurkan Magic Power, kau hanya akan bisa membuat jus dari infus tanaman herbal.

Pada akhirnya Direktur mengatakan, “Mari prioritaskan penelitian pada peningkatan keefisienan”, jadi aku kembali membuat potion setiap hari, tapi sepertinya aku berlebihan.

Aku membuat potion lebih dari yang diperlukan untuk penelitian, jadi mereka menjadi sisa.

Meskipun mereka bisa dijual pada harga grosir yang bagus, sayangnya performanya 1.5 kali lebih besar dari yang biasa, yang akan menjadi masalah saat dijual. Jadi sekarang ada sangat banyak potion di lembaga penelitian.

“Kamu membuat banyak lagi. Direktur akan memarahimu.”

“Aku lupa menghitung jumlah potion yang kubuat karena aku berkonsentrasi, tau?”

Aku bohong.

Aku ingin dengan cepat dapat membuat HP potion kelas tinggi tanpa keluhan, jadi aku hanya menaikkan level.

Karena tanaman herbal yang kugunakan dari kebun herbal, akhir-akhir ini ada orang yang mengeluh pada Direktur tentang berkurangnya tanaman herbal di kebun herbal.

Karena dimarahi itu tidak mengenakkan, aku memikirkan tentang menyembunyikan potion yang kubuat hari ini ke kamarku. Aku mengambil potion yang kubuat hari ini dari lemari kaca saat pintu laboratorium terbuka dengan sebuah bantingan.

Ketika aku berbalik, aku melihat seorang prajurit dengan napas putus asa. Dia berteriak, “Dimana Direktur?” saat dia melesat ke laboratorium.

Ketika aku menunjuk pintu yang mengarah ke ruangan direktur, dia bergegas menuju ke sana.

Apa sih yang terjadi?

Setelah beberapa saat si prajurit dan Direktur keluar dari ruangan direktur.

“Ini darurat, kumpulkan semua potion pemulihan sekarang.”

“Apa yang terjadi?”

“Ordo Ksatria ke-3 telah kembali dari hutan Ghost, tapi Salamander muncul. Banyak yang terluka dan sepertinya disana tidak cukup potion.”

Aku memahami situasinya dari bertanya pada seorang peneliti di dekat Direktur.

Minggu ini Ordo Ksatria ke-3 menaklukkan iblis di hutan Ghost, yang berlokasi di barat ibu kota. Tapi rupanya mereka mengalami cedera besar disana.

Direktur lembut, yang selalu tersenyum ramah, memberi instruksi dengan wajah yang mengerikan. Dalam sekejap para peneliti dengan ribut mulai mengumpulkan potion dari laci meja dan rak dan mengumpulkannya di meja di dekat pintu masuk laboratorium.

Bersama dengan Jude, aku juga mengambil potion dari lemari kaca dan membawanya ke meja.

Si prajurit terkejut pada jumlah potion yang dikumpulkan di meja dan berkata, “Sebanyak ini!?”

Ya, karena mereka belakangan ini menumpuk.

Setelah kami selesai mengambil semua potion dari lemari kaca, aku ingat aku telah menempatkan beberapa HP potion kelas tinggi di kamarku jadi aku pergi untuk mengambilnya.

Ketika aku kembali dari kamarku, semua orang telah selesai mengumpulkan potion di laboratorium dan memasukannya ke gerobak yang diparkir di luar pintu.

“Beberapa dari kalian ikut denganku.”

Seperti yang diinstruksikan oleh Direktur, para peneliti di dekat pinta masuk naik ke gerobak.

Gerobak mulai bergerak ketika aku menaikinya.

“Hey, apakah sesuatu seperti naga muncul di hutan Ghost?”

“Naga? Tidak, tidak ada.”

“Bukannya Salamander adalah firedrake(semacam naga api)?”

“Hm? Salamander hanya kadal yang menghembuskan api.”

Aku menerima jawaban tak terduga ketika aku bertanya pada Jude, yang ikut, tentang Salamander.

Salamander bukan naga......

Meskipun aku membayangkan itu adalah firedrake......

“Dia dapat menyebabkan kerusakan sebanyak ini meskipun hanya seekor kadal......”

“Meskipun kadal, dia besar dan lincah. Walaupun begitu, dia bukan dari spesies naga, dia iblis tingkat tinggi.”

“Aku mengerti.”

Bayangan Salamander di kepalaku sekarang menjadi naga Komodo sepanjang 10 meter.

Dia menghembuskan api sambil bergerak dengan kecepatan tinggi. Saat dia berhadapan muka denganku, aku yakin aku tidak akan dapat bergerak dan menyerah hidup.

Sementara aku memikirkan tentang seberapa kerasnya untuk Ordo Ksatria untuk menghadapi iblis tingkat tinggi seperti itu, gerobak berhenti di sudut istana kerajaan.

Begitu aku masuk, di dalam seperti medan perang.

“Ini mengerikan......”

“......”

Banyak orang terluka tertidur di ruangan yang biasanya digunakan sebagai aula, dan orang yang terlihat seperti dokter dan perawat berlarian di ruang di antara mereka.

Di ruangan, erangan dari korban yang terluka dan terbakar dari api Salamander, meluap, dan suara para dokter berteriak, “Apa potion-nya masih belum sampai?” bergema di seluruh ruangan.

Pikiran riang-ku beberapa saat yang lalu, jadi menggigil. Aku berdiri beku di tempat, tercengang. Direktur, yang pertama berdiri, menepukkan tangannya.

Direktur: “Bagikan potion yang kita bawa! Kalian berdua yang di sebelah sana, Jude dan Sei, tolong urus sisi lain.”

“”””Ya!””””

Aku mengambil beberapa potion dan membagikannya pada para dokter di sana-sini.

Para dokter kebanyakan berdiri di dekat mereka yang terluka serius dan memberikan potion pada pasien segera setelah mereka terima.

Karena kekurangan HP potion, HP potion kelas rendah juga diberikan pada yang terluka serius, meskipun mereka biasanya memerlukan potion kelas menengah untuk pulih total.

Para dokter mungkin merasa bahwa lebih baik memberi mereka sesuatu daridapa menyerah.

Terutama untuk pasien yang berada di perbatasan hidup dan mati.

Karena dengan memberi mereka potion, mereka bisa bertahan.

“Ini!”

Dokter yang memberi pasien potion, yang diserahkan padanya oleh peneliti, terkejut.

Setelah memberi potion pada pasien yang terengah-engah, kulitnya yang telah sangat robek oleh cakar iblis, benar-benar sembuh. Pasien, yang matanya menutup,  membuka matanya ketika dia merasa rasa sakitnya tiba-tiba menghilang. Dia dengan takut memastikan tubuhnya.

Semua lukanya telah menghilang, bahkan goresan kecil yang ia miliki dimana-mana dan kulit pucatnya juga membaik.

“Ini potion kelas rendah, kan?”

Si dokter, dengan ekspresi ragu di wajahnya, memegang botol kosong di tangannya tapi karena dia sudah memberi semuanya pada pasien, sulit untuk menentukan tingkatan potion-nya.

Si dokter yakin memberikan HP potion kelas rendah, tapi ini bukan sembarang HP potion kelas rendah.

Itu adalah potion yang bertambah 50% yang kubuat, dengan kata lain keefektipannya sama dengan potion kelas menengah.

Aku pergi sebelum si dokter dapat bertanya apa-apa padaku dan membagikan potion satu demi satu.

Aku bisa mendengar suara bingung dari para dokter dan perawat di sana-sini, tapi aku mengabaikannya.

Untuk sekarang membagikan potion sudah diprioritaskan.

“Apa ada HP potion kelas tinggi?”

Aku mendengar suara seseorang di belakang aula.

Ada banyak dokter dan ksatria berkumpul di tempat dimana suara itu berasal.

Apakah disana suara itu berasal?

Karena aku memiliki HP potion kelas menengah di tangan, aku pergi kesana dan saat aku mendekat, aku dapat mendengar orang mendiskusikan sesuatu.

“Ini akan sulit bahkan dengan potion kelas tinggi. Apakah ada yang bisa menggunakan sihir pemulihan?”

“Bahkan jika mereka bisa menggunakan sihir pemulihan, kalau bukan level 4 atau lebih...”

“Bagaimana dengan Saint-sama? Orang itu bisa menggunakan sihir pemulihan level 4, kan?”
[TL Note: Saint yang satu lagi, Misono Aira-chan.]

“Yang Mulia, Kyle tidak ingin menunjukkan adegan brutal seperti ini pada Saint-sama......”

“Apa!”

Kyle tentunya adalah nama pangerang pertama, si rambut merah yang sepertinya akan botak di masa depan.

Memang sulit untuk melihat bagian luka serius pasien tanpa penyensoran.

Bahkan aku, yang membanggakan dirinya karena memiliki daya tahan terhadap semburan darah, memberikan potion sambil melihat sesedikit mungkin.

Aira-chan yang lembut akan pingsan disaat dia melihat sesuatu yang seperti ini.

Ksatria yang sedang mendengarkan penjelasan orang yang seperti pejabat sipil, apakah dia teman pasien?

Karena aku tidak dapat melihat pasien karena kerumunan orang, aku tidak dapat menilai kondisinya. Tapi sepertinya lukanya sangat serius sehingga sulit disembuhkan bahkan dengan HP potion kelas tinggi.

Ketika aku melihat kerumunan, aku melihat Direktur dan berjalan ke arahnya. Dia memanggilku ketika dia menyadari aku mendekat.

“Sei! Apakah masih ada HP potion kelas tinggi yang tersisa?”

“Ah, kalau begitu, [Kapten]!.”

Saat aku menoleh ke arah suara, dokter dan perawat dengan cepat mulai bergerak.

Kondisi pasien sepertinya tiba-tiba berubah menjadi lebih parah.

Aku juga mendorong jalanku melalui kerumunan orang dan pergi ke sisi pasien.

Melihat dengan dekat bagian kanan atas tubuh pasien terbakar dan dia memiliki berbagai luka di sekujur tubuhnya. Keajaiban dia masih hidup.

Pernapasan kasarnya perlahan menjadi sunyi.

“Hey, minggir!”

Aku mendorong si dokter pergi dan melihat pasien, sepertinya dia akan segera mati.

Aku mengeluarkan HP potion kelas tinggi dari jaket apron-ku dengan tergesa-gesa, membuka penutupnya dan membawanya ke mulutnya.

Ketika aku mengatakan, “Tolong minumlah!” dengan suara keras, dia entah bagaimana dapat meminum potion-nya, sedikit demi sedikit.

Orang-orang di sekitar menelan ludah mereka saat mereka dengan penuh perhatian memperhatikan dia perlahan meminum potion-nya.

Setelah beberapa saat berlalu aku melihat pasien, yang telah selesai meminum semua potion-nya. Kulitnya yang hangus telah terkelupas dan kulit yang indah muncul dibawahnya.

Pernapasannya yang kasar mereda tapi tidak berhenti, itu adalah napas tenang dari orang yang tertidur.

Ketika aku memastikannya dengan mataku sendiri, aku menghembuskan napas karena bekerja dengan baik. Orang-orang disekeliling berteriak dengan sukacita, “Oooouuuuuuuuuuuu!”

──Act 2 END──


Prev | ToC | Next