Tolong matikan adblock dan script blocker Anda untuk melihat halaman ini.

──Jika ingin meng-COPY tolong sertakan sumber :D──


Penerjemah: D.Blank13th


Act 1

Penilaian

Part II



Seorang Utusan datang dari istana dua hari setelah penilaian di Divisi Penyihir Istana.

Dia memang pernah beberapa kali datang, tapi kali ini berbeda.

Semuanya normal sampai pada saat Direktur menyambut Utusan itu di pintu masuk.

Direktur memanggilku dan membawaku ikut dengannya ke tempat Utusan itu menunggu.

Direktur dan Utusan itu secara formal saling berbasa-basi dan kemudian kami semua pindah ke Ruang Direktur.

Mengapa utusan sok ini di sini? Dia datang membawakan sebuah surat, yang ditujukan padaku dari Yang Mulia Raja.

Isinya seperti ini:

Aku ingin bertemu denganmu di istana besok.

Mhmm, bukankah ini pertemuan dengan Raja?

“Direktur?”

“Ada apa?”

“Saya tidak memiliki pakaian yang sesuai untuk dipakai saat bertemu Yang Mulia.”

Aku teringat akan percakapan pertamaku dengan Yang Mulia ketika aku melihat surat itu.

Saat itu dia berkata kalau akan ada permintaan maaf resmi. Aku ingin tahu apakah ini tentang itu.

Aku merasa telah menolak permintaan maaf yang terlalu berlebihan sebelumnya; apakah dia mengabaikannya?

Liz mengajariku sedikit tentang kebiasaan di kerajaan ini, tapi aku belum cukup belajar untuk audensi dengan Yang Mulia Raja.

Karena itu, aku mencoba menolak undangan dengan menggunakan pakaianku sebagai alasan, tapi gagal.

“Anda tidak perlu mempersiapkan apapun, Sei-sama. Semua persiapan anda akan diurus di istana.”

Begitulah.

Itu tak terelakkan, dan bahkan jika aku menolak dengan terus terang mengatakan kalau aku khawatir dengan etiketku, dia hanya akan mengatakan kalau itu tidak menjadi masalah.

Aku merasa sedikit tidak enak atas sikap hormat dari si Utusan, tapi akan merepotkan jika aku terus ragu jadi aku menerimanya.

Akan lebih baik bagiku untuk menolak, tapi aku merasa hal-hal akan menjadi lebih rumit lagi jika aku melakukannya.

Bahkan ketika aku bertemu Yang Mulia di perpustakaan, dia telah mencoba memberi hadiah kepadaku dengan berbagai hal seperti wilayah dan gelar.

Bila kutolak kali ini, dia akan sadar kalau aku sedang marah. Aku akan sangat terganggu jika dia mulai mempersiapkan sesuatu untukku.

Hal yang tak dapat diatur.

Terlebih, aku khawatir akan menyebabkan ketidaknyamanan bagi Direktur jika aku menolak lebih dari ini.

Dari sudur pandang Lembaga Penelitian, Yang Mulia sama dengan kepala organisasi unggulan.

Bagaimanapun, kepala Kerajaan ini mungkin akan disalahkan karena aku dipanggil dari dunia lain.

Bahkan jika tidak ada yang menyalahkannya, akan ada dilema antara aku dan atasanku, yang berbau seperti masalah.

Ini masalah manajemen menengah.

Aku tidak ingin mengganggu Direktur dengan hal-hal seperti itu karena dia selalu melakukan banyak hal untukku.

Nah, kalaupun kubilang pada Direktur kalau aku khawatir akan hal ini, dia hanya akan mengakhirinya dengan, “Jangan khawatir tentang hal itu.”

Sehari setelah si Utusan datang.

Aku pergi ke Istana Kerajaan pagi-pagi dan memulai persiapanku untuk audensi dengan sang Raja.

Tampaknya berbagai persiapan dibutuhkan untuk menemui Yang Mulia Raja.

Aku sudah bilang pada si Utusan kalau kurasa tidak perlu untuk bersiap pagi-pagi sekali, tapi dia mengabaikanku.

Aku sedang bersiap-siap di sebuah ruangan besar yang terlihat seperti hotel suite, dengan kamar tidur dan ruang tamu.

Begitu aku memasuki ruangan, para pelayan yang sudah menunggu, berkumpul.

Mereka mengantarku ke kamar mandi dan, sebelum aku menyadari apa yang terjadi, menanggalkan pakaianku dan memandikanku.

Aku tidak berpikir aku harus mandi lagi sepagi ini karena aku selalu mandi setiap hari di Lembaga Penelitian, tapi ini tidak bisa dirundingkan.

Para pelayan membasuh setiap sudut dan celah tubuhku, dari kepala sampai ke jari kakiku.

Ini benar-benar memalukan, tapi aku sudah pernah mengalami hal ini sebelumnya, saat aku tinggal di istana setelah dipanggil ke dunia ini.

Aku takut nantinya akan terbiasa.

Para pelayan yang saat ini berada di ruangan ini adalah orang yang sama yang memandikanku saat aku pertama kali dipanggil, jadi aku dapat menanggung rasa maluku.

Para pelayan juga dengan hati-hati memijat tubuhku setelah aku keluar dari kamar mandi.

Aroma yang enak menyebar ke seluruh ruangan yang berasal dari minyak esensial yang mereka gunakan, seperti geranium dan bergamot.

Karena pelayannya ahli, rasanya sangat menyenangkan.

Karena pagi-pagi sekali, tak terelakkan aku tertidur.

Mereka dengan cepat menyelesaikan riasanku saat aku linglung setelah dipijat.

Aku kembali sadar saat mendengar panggilan suara, Sei-sama. Aku melihat ke cermin dan melihat betapa halusnya diriku dan ingin bertanya, “Siapa itu?”

Rambutku turun seperti biasanya, tapi setelah dioleskan minyak wangi, rambutku terlihat sangat halus sehingga ada cincin malaikat dapat terlihat.

Para pelayan juga puas dengan pekerjaan mereka.

Pengerjaan tubuhku sudah selesai jadi sekarang aku perlu ganti.

Gaun di tangan si pelayan itu bukan jenis gaun yang kupikir akan kukenakan. Itu adalah jubah putih elegan dan berkilau, disulam dengan benang emas.

Aku ingin menyahut, itu untuk wanita bangsawan kelas tinggi mana? Aku sedikit terkejut karena para pelayan terus melanjutkan persiapannya.

Kupikir aku pasti akan mengenakan gaun yang mengencang di sekitar pinggangnya.

Jubahnya mirip dengan yang dipakai oleh Penyihir Istana, tapi itu lebih mewah.

Ketika aku melihatnya, aku berpikir......

Entah bagaimana itu tampak seperti sesuatu yang akan saint kenakan.

Secara tidak sadar wajahku berdenyut.

Aku tidak ingat melakukan apapun selama penilaian yang akan menunjukkan kalau aku adalah Saint.

Namun, ketika kupikir-pikir kembali, aku lebih banyak bertindak di sisi abu-abu daripada sisi hitamnya.

Aku tidak menulis status ku sih, jadi mereka bisa melihatnya sebagai rasa bersalah.

Sebenarnya ada sesuatu yang bisa mengungkapkan siapa aku sebenarnya.

Istana mungkin telah memutuskan untuk memperlakukanku seperti Saint dari mengamati berbagai tindakanku.

Para pelayan terus mengganti bajuku saat aku sedang berpikir.

Setelah semuanya selesai, aku melihat tubuhku di cermin full body dan di sana berdiri seorang Saint.

Yap.

Apa yang kubilang?

Aku sendiri juga terkejut.

Tidak ada halo di belakangku, tapi ada bayangan murni seorang Saint.

Aku ingin menyahut, siapa ini?

“Anda sangat cantik.”

“Terima kasih.”

Aku dipuji oleh seseorang yang nampaknya adalah pemimpin para pelayan.

Keahlian mereka cukup baik jadi aku berterima kasih pada mereka.

Aku bangga karena kulitku menjadi sangat indah sejak datang ke sini, tapi di tangan seorang profesional, kulitku bersinar.

Kulitku tampak bening, jadi aku senang dan sedikit bersemangat.

Indahnya, pikirku saat aku melihat lebih dekat ke cermin dan kemudian seseorang memberi tahuku kalau seseorang telah tiba.

Meski aku keluar seperti ini, aku tidak akan merasa malu, jadi seharusnya tidak akan masalah.

Aku menyuruh mereka membiarkannya masuk.

Saat ini aku berada di kamar tidur, jadi aku melihat ke cermin sekali lagi sebelum masuk ke ruang tamu.

“Hawk-sama?”

Kapten sedang duduk di sofa saat aku memasuki ruang tamu.

Eh? Apa?

Mataku melebar. Kapten berdiri dan berjalan ke arahku.

“Selamat pagi, Sei.”

“Selamat pagi. Umm...... Apa yang anda lakukan di sini?”

Tanyaku dengan cara yang aneh dan Kapten memiringkan kepalanya sesaat, tapi dia langsung mengerti apa yang ingin kutanyakan.

Aku akan bertemu dengan Raja, jadi dia datang ke sini untuk mengantarku ke ruangan tempat Raja berada.

Pengawal?!

Aku hanya berjalan melewati Istana Kerajaan, jadi tidak perlu ada pengawal, kan?

Aku terkejut dan Kapten tertawa susah payah.

“Kupikir kau akan merasa tidak nyaman sendirian. Apa aku terlalu banyak berpikir?”

“Ah, huh?! Itu tidak benar!”

“Syukurlah.”

“Um, terima kasih.”

Aku panik dan menggelengkan kepala. Kapten tampak lega.

Bahkan orang-orang kerajaan ini akan merasa gugup pada audensi pertama mereka dengan sang Raja.

Lebih meyakinkan untuk memiliki seseorang yang kamu kenal pada saat seperti itu, jadi dia datang terutama karena alasan itu.

Katanya dia mendengar tentang audensi ini dari Direktur, yang juga khawatir.

Kebaikan mereka menghangatkan hatiku.

Terima kasih.

Aku mengucapkan terima kasih di hatiku dan aku melihat Kapten sedang menatapku.

“Ada apa?”

Aku heran dan bertanya. Sejenak, Kapten tidak bisa berkata apa-apa, lalu dia tersenyum lembut dan menjatuhkan bom.

“Tidak...... Kamu terlihat berbeda dari biasanya. Kamu hari ini juga cantik......”

Baru-baru ini aku sedikit terbiasa dengan serangan Direktur, tapi daya serang Kapten sangat tinggi karena dia adalah Kapten.

Aku tersipu. Diberitahu sesuatu seperti itu dengan suara yang agak tak tertahankan itu argh!

Sudah kubilang aku tidak terbiasa menerima pujian!

Aku sadar wajahku mulai memerah saat aku mendengar suara berisik.

Aku menahan keinginan untuk menjerit dan melihat ke bawah untuk menutupi wajahku.

Juga tidak mungkin aku menghadap Kapten.

“Sei......”

Kapten memperpendek jarak antara kami selangkah demi selangkah.

Aku bisa melihat tangan Kapten terangkat di ujung mataku.

Tangan Kapten sepertinya menyentuh pipiku dan aku memejamkan mataku.

“I, itu karena para pelayan bekerja keras......”

Kataku, tiba-tiba teringat kalau para pelayan ada di sini.

K-kenapa aku menyebabkan aura aneh di depan umum?!

Aku panik dan melihat sekeliling. Aku melihat pelayan, yang sedang menunggu di dekat dinding, melirik ke sini.


Saat mataku bertemu mata mereka, mereka mengalihkan tatapan mereka.

Mereka melihat kami......

Ah! Aku ingin merangkak masuk ke lubang......

Aku merasa malu dan ingin berjongkok di tempat, saat terdengar ketukan di pintu.

Aura aneh di ruangan lenyap dan para pelayan bergerak menanggapi ketukan pintu.

Ketika aku melihat Kapten menurunkan tangannya, aku tidak tahu apa yang kurasakan. Apakah aku merasa lega? Atau menyesal?

Ketukan itu berasal dari Pejabat Sipil, yang datang karena persiapan audensi telah selesai.

Para pelayan mengantar kami pergi, dan Pejabat Sipil mulai membawa kami ke ruang tahta.

Ruang tahta itu jauh dari ruangan kami berada, dan kami meyusuri koridor panjang dalam kesunyian.

Kalau aku sendirian, mungkin aku akan merasa lebih gugup saat berjalan.

Untung Kapten ada di belakangku, jadi pikiranku tetap tenang.

Saat kamii sampai di depan ruang tahta, si Pejabat Sipil menjelaskan apa yang akan terjadi saat aku masuk.

Pejabat Sipil menjelaskan apa yang terjadi tiba-tiba dan tidak hanya melemparku ke ruang tahta......

Aku menarik napas panjang dan si Penjaga, yang berdiri di depan pintu, membukanya.

Ruang antara tahta dan pintu lebih sempit dari kupikirkan.

Aku sedikit terkejut karena mengira aku akan dipandu ke aula yang luas.

Aku melihat ke sekeliling ruangan yang tidak terlalu lebar itu, dan melihat sekitar sepuluh orang yang tampak seperti bangsawan.

Tahta diletakkan di bagian belakang tengah ruangan, dan Yang Mulia Raja sedang mendudukinya.

Apakah itu Perdana Menteri yang di sebelah Yang Mulia?

Seorang pria tua dengan rambut biru tua licin dan wajah tegas berdiri di samping Yang Mulia.

Kapten, yang menemaniku dari belakang, memasuki pintu dari samping dan berdiri dengan bangsawan lainnya.

Mata kami bertemu sesaat.

Matanya tersenyum seolah mengatakan tidak apa-apa.

Untuk sekarang, aku berjalan ke tengah ruangan seperti yang dikatakan Pejabat Sipil.

Ketika aku berhenti, aku mendengar suara pintu tertutup di belakangku.

Pejabat Sipil hanya memberi tahuku apa yang harus dilakukan sampai disini.

Dari sini tidak ada naskah.

Aku merasa gugup dari suasana tegang yang halus ini.

Setelah beberapa menit, Raja berdiri dari tahtanya dan ketegangannya meningkat.

Raja turun dari panggung, di mana tahta diletakkan, dan berjalan ke arahku sampai dia berhenti beberapa langkah.

“Aku Siegfried Slantania, penguasa Kerajaan ini.”

“Nama saya Sei Takanashi.”

Aku menerima nama Yang Mulia dan membalasnya dengan namaku.

Aku tidak tahu harus berbuat apa tapi ini sopan santun, kan?

“Pertama-tama, aku ingin meminta maaf karena tiba-tiba memanggilmu dari negara mu, dan untuk kekasaran putra ku.”

Yang Mulia membungkuk dalam-dalam setelah berbicara.

Orang-orang di sekitarku juga menoleh ke arahku dan membungkuk.

Tunggu sebentar.

Apa-apaan setting ini?!

Aku berkeringat dingin, namun tak ada yang bergerak, bahkan Yang Mulia sekalipun.

Mari kita tinggalkan hal-hal seperti memaafkan atau tidak memaafkan untuk saat ini. Kalian harus mengangkat kepala kalian dulu, bukan?

“Tolong angkat kepala kalian.”

Kataku sambil menahan suaraku yang gemetar, dan semua orang mengangkat kepala mereka.

Ketegangan di ruangan agak mengendur.

Kurasa ini adalah permintaan maaf resmi yang dia ceritakan sebelumnya, tapi ini terlalu intens bagi orang biasa, jadi aku ingin dia berhenti melakukan ini di masa depan.

Kupikir itu sudah berakhir dengan ini, tapi ternyata tidak.

“Sei-dono, kamu telah melakukan berbagai prestasi sejak datang ke sini, ke Kerajaan ini. Aku ingin memberimu penghargaan di atas permintaan maaf. Apa ada yang kamu mau?”

“Penghargaan?”

Meskipun dia tiba-tiba bertanya kepadaku, aku tidak dapat memikirkan sesuatu di tempat.

Kupikir ini akan berakhir dengan hanya permintaan maaf.

Penghargaan, hadiah, ya......

Oh ya, dia juga menanyakan ini padaku.

Tapi aku benar-benar tidak membutuhkan apapun.

Bisakah aku mengatakan kalau aku tidak membutuhkan apapun, di tempat seperti ini?

Aku melirik Kapten dan kulihat dia sedikit mengerutkan alisnya.

Bukan hanya Kapten, orang-orang di sekitarnya juga melakukan hal yang sama.

Rasanya mereka terengah-engah mengawasiku.

“Anda bisa meminta pangkat atau wilayah. Anda dapat memiliki apapun yang anda inginkan selama kami bisa menyediakannya.”

“Yah, itu sedikit......”

Perdana Menteri (?) menyarankan, mungkin karena aku terdiam.

Aku khawatir, tapi jika kuperhatikan, aku akan menyadari kalau aura yang santai telah menjadi tegang lagi. Baik Perdana Menteri (mungkin) dan Yang Mulia tampak muram.

Hal-hal seperti pangkat atau wilayah mungkin merupakan penghargaan itu biasa di sini, tapi aku tidak memerlukan hal-hal seperti itu.

Hal-hal di luar jangkauanku mungkin akan membatasi tindakanku.

Memiliki hal-hal seperti itu akan membuatku kesulitan keluar dari Kerajaan ini jika terjadi sesuatu.

Aku juga tidak bisa membuangnya begitu saja kalau aku ingin meninggalkan kerajaan.

Aku ingin tahu apa yang akan terjadi kalau kubilang aku tidak membutuhkan apapun.

Aku ingin mencoba mengatakannya dengan keras, tapi aku ragu saat melihat bagaimana tatapan orang-orang di sekitarku.

Menlai dari kata-kata Yang Mulia, tujuan audiensi ini adalah permintaan maaf.

Dia mungkin sedang mencoba memahami tujuanku yang sebenarnya dengan melihat apakah aku akan menerima hadiahnya atau tidak.

Jujur, banyak hal yang terlintas dalam benakku saat pertama kali dipanggil ke dunia ini; tapi enam bulan telah berlalu sejak saat itu, dan aku tidak semarah sebelumnya.

Apakah aku merasa lebih baik karena bekerja keras dan melakukan apa yang kusukai di Lembaga Penelitian?

Ataukah fakta bahwa marah itu menghabiskan begitu banyak energi sehingga sulit untuk terus marah?

Kalau aku harus mengeluarkan energi untuk sesuatu, lebih baik aku menghabiskannya untuk mengkonsolidasikan posisiku.

Mungkin aku telah tergerak oleh kebaikan para Peneliti, Ksatria dan orang-orang di sekitarku.

Awalnya aku ingin meninggalkan Kerajaan ini, tapi aku merasa tidak perlu melakukanya lagi.

Aku harus bersiap untuk keluar sesegera mungkin seandainya terjadi sesuatu.

Yap.

Aku ingin mengatakan pada mereka kalau aku tidak membutuhkan apa-apa, tapi jika aku melakukanya, mereka mungkin akan mengajukan lelucon ini lagi.

Itu akan merepotkan.

Aku ingin menerima sesuatu dan mengakhiri ini.

Sebuah hadiah yang tidak akan merepotkan. Apakah ada yang seperti itu?

Aku berpikir sebentar dan kemudian itu terlintas di benakku. Aku mengatakan pada mereka:

“Saya dapat meminta apapun yang saya inginkan, benar kan?”

“Ya.”

“Kalau begitu...... bolehkah saya mendapat izin untuk membaca buku dari bagian terlarang?”

Apakah permintaanku tidak terduga? Yang Mulia sedikit melebarkan matanya.

Itu tidak akan menghalangiku, jadi itulah yang paling kuinginkan.

Untuk beberapa saat aku sedang mencari cara agar bisa membuat potion yang lebih tinggi dari potion kelas tinggi, tapi pencarianku tidak membuahkan hasil.

Aku sudah selesai membaca semua buku terkait di perpustakaan, dan aku tidak dapat memikirkan cara lain selain membaca buku terlarang.

Namun seorang peneliti belaka tidak memiliki izin untuk membaca buku terlarang, jadi aku menyerah di tengah jalan.

Tapi hadiah tiba-tiba dibawa-bawa di tempat ini.

Aku harus memanfaatkannya, bukan?

“Saya juga ingin mempelajari sihir, jadi bisakah saya mendapat instruktur sihir?”

Entah bagaimana aku berpikir bahwa akan baik-baik saja untuk meminta satu hal lagi, jadi aku menambahkannya.

Berkat kemampuan sihirku, aku juga bisa menggunakan sihir.

Rasanya aku kehilangan banyak hal kalau hanya dengan belajar sendiri dari buku.

Sihir tidak ada di dunia asalku, jadi kalau memungkinkan aku ingin kesempatan belajar dari instruktur yang tepat.

Mampu menggunakan sihir di dunia ini sangat menguntungkan untuk medukung diri sendiri.

“Baiklah. Saya akan membuat persiapannya.”

Hasilnya, permintaanku diterima.

Sepertinya permintaanku tak terduga.


Penyesuaian perlu dilakukan, dan aku akan menerima hadiahku segera setelah mereka siap.



──Act 1 Part II END──


Prev | ToC | Next